Roti Tawar Ternyata Pernah Dilarang di Amerika Serikat
Saat ini banyak orang yang memilih menu roti tawar sebagai menu sarapan mereka di pagi hari. Biasanya, orang lebih memilih sarapan dengan roti tawar sebab lebih praktis dan tentunya sehat.
Sejak tahun 1928, di Amerika Serikat sudah ada roti tawar potong yang sudah dikemas. Pada ketika itu, keberadaannya dianggap sebagai sebuah langkah maju terbesar dalam industri ini.
Namun pada Perang Dunia II, roti tawar iris yang sudah dikemas ini ternyata pernah dilarang di Amerika Serikat. Menteri Pertanian sekaligus Administrasi Pangan Peperangan Claude R. Wickard melarang roti tawar di Amerika Serikat dengan alasan yang tidak jelas.
Namun banyak yang menganggap bahwa alasan itu menjadi cara penghematan sumber daya yang menyusut selama perang, misalnya untuk mengirit kertas minyak, baja, atau gandum.
Akan tetapi, keputusan itu juga diduga menjadi jawaban atas problem peningkatan harga roti, sebab dipicu peningkatan harga tepung gandum sebesar 10 persen yang dikeluarkan oleh Office of Price Administration.
Ketika melarang roti tawar di Amerika Serikat, ada beberapa alasan yang tampaknya sangat dibuat-buat untuk melarangnya. Saat pelarangan, roti tawar iris sangat populer sehingga larangan yang diterbitkan diperlukan dapat mengurangi konsumsi roti, usul tepung, sampai balasannya mengurangi harga produk sambil menumpuk cadangan gandum.
Roti tawar iris memang memerlukan kertas minyak yang lebih tebal sebab rotinya lebih cepat basi. Hal ini pun menjadi alasan resmi, walaupun ketika itu tidak dilaporkan adanya kekurangan kertas minyak. Kebanyakan perusahaan roti memiliki pasokan kertas minyak untuk beberapa bulan.
Bukan hanya itu, alasan penghematan gandum juga dipandang tidak masuk akal, sebab ketika itu AS telah menimbun lebih dari 1 miliar ikatan gandum yang setara dengan keperluan 2 tahun tanpa perlu embel-embel hasil panen.
Untuk mencegah problem roti basi, Rohwedder, pencipta mesin otomatis pemotong roti pertama, mencoba menjepit helai-helai roti menggunakan pin yang ditarik keluar setiap kali sehelai roti diambil.
Penggunaan pin tidak memuaskan sehingga mesin itu dimodifikasi semoga membungkus roti dengan kertas minyak.
Bicara soal ketersediaan baja, sejumlah mesin pemotong memang menggunakan baja sehingga larangan tersebut diduga berkaitan dengan penghematan logam tersebut.
Namun, alasan itu terasa lemah, sebab kebanyakan pembuat roti pada ketika itu tidak secara aktif membeli mesin-mesin potong. Jumlah logam yang dipakai pun tidak banyak.
Menilik alasan-alasan yang dipaparkan, tentu saja warga merasa kecewa dengan larangan tersebut.
Harian New York Times menerbitkan surat bernada kekecewaan dari seorang ibu rumah tangga, "Saya ingin Anda tahu betapa pentingnya roti iris bagi semangat dan kewarasan dalam rumah tangga. Suami dan empat anak aku selalu terburu-buru selagi sarapan dan sesudahnya".
"Tanpa roti iris, sayalah yang harus mengiris sebelum dipanggang. Makara semuanya 10 helai roti. Untuk makan siang, aku harus mengiris dengan tangan setidaknya 20 helai".
"Setelah itu aku membuat roti panggang untuk saya. Makara ada 22 helai roti yang harus diiris secara terburu-buru!"
Untungnya, sekitar tiga bulan setelah terbit, larangan itu ditarik pada 8 Maret 1943. Saat peniadaan larangan, Wickard menjelaskan bahwa penghematan yang diraih tidak seberapa.
Sejak tahun 1928, di Amerika Serikat sudah ada roti tawar potong yang sudah dikemas. Pada ketika itu, keberadaannya dianggap sebagai sebuah langkah maju terbesar dalam industri ini.

Namun pada Perang Dunia II, roti tawar iris yang sudah dikemas ini ternyata pernah dilarang di Amerika Serikat. Menteri Pertanian sekaligus Administrasi Pangan Peperangan Claude R. Wickard melarang roti tawar di Amerika Serikat dengan alasan yang tidak jelas.
Namun banyak yang menganggap bahwa alasan itu menjadi cara penghematan sumber daya yang menyusut selama perang, misalnya untuk mengirit kertas minyak, baja, atau gandum.
Akan tetapi, keputusan itu juga diduga menjadi jawaban atas problem peningkatan harga roti, sebab dipicu peningkatan harga tepung gandum sebesar 10 persen yang dikeluarkan oleh Office of Price Administration.
Ketika melarang roti tawar di Amerika Serikat, ada beberapa alasan yang tampaknya sangat dibuat-buat untuk melarangnya. Saat pelarangan, roti tawar iris sangat populer sehingga larangan yang diterbitkan diperlukan dapat mengurangi konsumsi roti, usul tepung, sampai balasannya mengurangi harga produk sambil menumpuk cadangan gandum.
Roti tawar iris memang memerlukan kertas minyak yang lebih tebal sebab rotinya lebih cepat basi. Hal ini pun menjadi alasan resmi, walaupun ketika itu tidak dilaporkan adanya kekurangan kertas minyak. Kebanyakan perusahaan roti memiliki pasokan kertas minyak untuk beberapa bulan.
Bukan hanya itu, alasan penghematan gandum juga dipandang tidak masuk akal, sebab ketika itu AS telah menimbun lebih dari 1 miliar ikatan gandum yang setara dengan keperluan 2 tahun tanpa perlu embel-embel hasil panen.
Untuk mencegah problem roti basi, Rohwedder, pencipta mesin otomatis pemotong roti pertama, mencoba menjepit helai-helai roti menggunakan pin yang ditarik keluar setiap kali sehelai roti diambil.
Penggunaan pin tidak memuaskan sehingga mesin itu dimodifikasi semoga membungkus roti dengan kertas minyak.
Bicara soal ketersediaan baja, sejumlah mesin pemotong memang menggunakan baja sehingga larangan tersebut diduga berkaitan dengan penghematan logam tersebut.
Namun, alasan itu terasa lemah, sebab kebanyakan pembuat roti pada ketika itu tidak secara aktif membeli mesin-mesin potong. Jumlah logam yang dipakai pun tidak banyak.
Menilik alasan-alasan yang dipaparkan, tentu saja warga merasa kecewa dengan larangan tersebut.
Harian New York Times menerbitkan surat bernada kekecewaan dari seorang ibu rumah tangga, "Saya ingin Anda tahu betapa pentingnya roti iris bagi semangat dan kewarasan dalam rumah tangga. Suami dan empat anak aku selalu terburu-buru selagi sarapan dan sesudahnya".
"Tanpa roti iris, sayalah yang harus mengiris sebelum dipanggang. Makara semuanya 10 helai roti. Untuk makan siang, aku harus mengiris dengan tangan setidaknya 20 helai".
"Setelah itu aku membuat roti panggang untuk saya. Makara ada 22 helai roti yang harus diiris secara terburu-buru!"
Untungnya, sekitar tiga bulan setelah terbit, larangan itu ditarik pada 8 Maret 1943. Saat peniadaan larangan, Wickard menjelaskan bahwa penghematan yang diraih tidak seberapa.
Komentar
Posting Komentar